Membuka Proteksi Klik Kanan Halaman Website
Pernah menjumpai sebuah halaman website yang tidak bisa di copy? padahal kita perlu sekali dengan artikel itu. Saya rasa hampir semua netter yang suka browsing pasti pernah mengalami hal tersebut. Tidak bisakah kita ‘mengakali’ untuk mengambil artikel tersebut?. Kok rasanya Pelit banget? Padahal menurut saya pribadi, yang namanya sudah di pasang di dunia maya, itu sudah hampir menjadi milik orang lain. Orang lain bisa melihat, mengcopy atau bahkan merubahnya. Apakah memang halaman-halaman yang terporoteksi tersebut sudah tidak bisa di akali lagi?. Sebenernya bisa, untuk menembus proteksi tersebut ternyata agak gampang. caranya adalah sebagai berikut.
25 Pejabat Negara Terkaya di Indonesia (?)
Gile mamang, di tengah banyaknya masyarakat yang kesulitan ekonomi, segala kebutuhan serba mahal. Ternyata masih banyak juga orang kaya yang ada di tanah air ini. Untuk pejabat negara di pimpin oleh Ical dengan Bakrie Grupnya disusul oleh Yusuf Kalla dengan Kalla Interprisenya, sedangkan pejabat pemerintah daerah khususnya gubernur terkaya, ditempati Rudolf Pardede, Gubernur Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Tercatat dalam LHKPN, Rudolf yang juga mantan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat ini banyak memiliki harta kekayaan berupa logam/ batu mulia dan barang seni/antik senilai di atas Rp. 100 milyar. Secara keseluruhan, Rudolf telah memiliki kekayaan sekitar Rp. 298 milyar atau hampir sepertiga dari kekayaan Ical. Sedangkan untuk gubernur termiskin diantara yang lain dipegang oleh Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.
Memang Aneh
Kenapa ya, sekarang kalau orang lagi di sidang pasti pakai baju koko (busana muslim) dan pakai kopiah. Padahal dulu sebelum di sidang dia jarang sekali atau bahkan tidak pernah pakai baju tersebut. Kalau saya perhatikan itu berlaku untuk semua kasus, baik itu kasus korupsi, kasus pembunuhan, kasus pemerkosaan, dan kasus-kasus yang lain. Sepertinya baju koko dan kopiah sekarang sudah bergeser menjadi baju wajib orang yang lagi di sidang. Bukan lagi baju yang wajib di pakai untuk orang Islam yang akan menghadap kepada Sang Maha Kuasa. Aneh ya?
Belitangku Nan Subur
Lama juga tidak melihat Belitang, kampung kelahiranku. Rasa rindu selalu saja mengelayutiku. Walaupun baru dua tahun saya tidak pulang kampung, tetapi rasanya sudah berpuluh-puluh tahun. Saya hanya mendegar cerita tentang Belitang dari orang-orang kampung yang datang ke sini. Dari merekalah saya banyak mendapatkan informasi bahwa Belitang sekarang sudah jauh maju di bandingkan beberapa tahun yang lalu. Salah satunya karena kepemimpinan bupati yang baru, Bapak H. Herman Deru, SH, MM. Mereka bilang, “kamu akan kaget kalau pulang ke Belitang, apalagi melihat Gumawang (Ibu Kota Belitang) yang semakin maju.
Masyarakat Kita Yang Santun, Mana?
Dulu waktu duduk di bangku sekolah dasar, baik Ibu Guru atau Bapak Guru selalu mengatakan bahwa masyarakat kita ini dikenal dengan sopan, santun dan keramahtamahannya. Karena kita orang Timur, jadi kita dikenal dengan budayanya yang santun, begitu guru pernah berucab. Ibu guru melanjutkan, orang timur itu lebih mempunyai moral daripada orang barat. Benarkah ini? terus terang saya agak meragukan pernyataan tersebut. Mungkin dulu, waktu kecil percaya saja, karena kita tidak mencari tahu lebih lanjut mengenai itu. Tetapi sekarang, setelah besar dan setelah kita tahu banyak hal, mungkin apa yang dulu pernah di katakan oleh guru, itu tidak benar adanya.
Seharusnya Kita Semua Sejahtera
Kesejahteraan pasti menjadi dambaan oleh setiap orang. Tidak peduli itu yang berkulit hitam, putih, yang berambut lurus atau kriting. Semuanya pasti mendambakan kesejahteraan. Namun sayang, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Padahal kalau kita mau sedikit jeli kepada apa yang ada di sekitar kita, seharusnya kesejahteraan itu bisa atau mudah di dapatkan. Apalagi sekarang sudah mau dekat dengan pemilu. Lho, lantas apa hubungannya kesejahteraan dengan pemilu. Menurut saya ada kaitan antara kesejahteraan dengan pemilu.
Soal Kangen Band dan Tukul
Saat lagi browsing-browsing di internet kemudian saya teringat pada satu kelompok band, yah Kangen Band. Saya masukkan keyword Kangen Band, tak lama saya di bawa ke beberapa links tentang Kangen Band. Lumayan juga links-links yang saya dapatkan tentang band tersebut. Dan dari sekian banyak links yang saya dapatkan memang belum semuanya saya buka dan saya baca. Tetapi apa yang saya dapatkan (setelah saya buka dua links), ternyata hanya hujatan saja tentang kelompok band tersebut. Saya tidak tahu, salah apa mereka (Kangen Band) sepertinya mereka tidak pernah berhenti dari hujatan orang-orang yang tidak tahu dan memamahami siapa mereka. Di salah satu links/blog yang saya buka, saya temui ada sekitar 768 tanggapan untuk topik tentang Kangen Band. Dari sekian banyak respon tersebut, tentunya ada yang simpati dan ada yang menghujat, namun sepertinya lebih banyak yang menghujat. Ada apa dengan Kangen Band?
Ngudi Tentreming Ati
Hembusan angin yang sejuk, suasana yang tentram dan damai. Pasti menjadi dambaan setiap orang yang hidup di kota-kota besar. Apalagi hidup di suasana dan hiruk pikuknya Ibu Kota Jakarta, pasti suasana seperti itu sangat di dambakan. Tidaklah mengherankan kalau datang libur panjang, warga kota yang mempunyai uang cukup, pasti melakukan perjalanan luar kota atau rekreasi. Tujuannya hanya satu mencari suasan baru dan ketenteraman hati. Bicara tentang ketenteraman hati, dan seperti tagline dari blog ini, ngudi tentreming ati (mencari ketentraman hati). Memanglah sangat layak untuk dicari. Untuk apa punya mobil lebih dari satu, rumah mewah di mana-mana akan tetapi kalau hatinya tidak tentram pasti tidaklah nyaman. Cobalah tanya kepada orang kaya, yang hatinya selalu diselumuti gundah, selalu resah, apakah hidupnya tenang? Pasti jawabannya Tidak. Namun jangan coba pertanyaan itu dilemparkan kepada saya. Karena saya belum merasakan itu (kaya), he he he.
Akhirnya, Nulis Kembali
Ah!, akhirnya kesampaian juga untuk menulis kembali. Setelah sekian lama, hampir tiga bulan tidak pernah menulis kembali, namun hari ini terlaksana juga. Bukan karena apa, terus terang keinginan untuk menulis selalu ada, setiap kali ada peristiwa ingin sekali menulis dan di posting di blog. Tetapi entah mengapa keinginan tersebut hanya sebatas keinginan saja. Memang, sepertinya ada sesuatu yang agak kurang, kalau melihat sesuatu yang saya anggap beda, tidak di tuliskan. Oleh sebab itu, mulai sekarang Insa Allah saya akan kembali menulis kembali.
Dalam Sebuah Perjalanan
Akhir bulan Oktober kemarin saya melakukan perjalanan ke Batang, Pekalongan Jawa Tengah. Berangkat dari terminal Pulogadung kurang lebih pukul 09.00 WIB. Saat itu memang masih dalam suasana lebaran, namun tarif yang berlaku tarif normal. Kalau pada saat lebaran tarif Jakarta-Pekalongan AC sebesar Rp. 90.000,-, tapi kemarin pada saat saya berangkat hanya Rp. 45.000,-. Harga yang masih bisa terjangkau oleh penumpang yang berkantong tipis seperti saya. Tidak seperti tarif bis ke Belitang Oku Timur, tanah kelahiranku. Pada saat hari biasa saja sudah mencapai Rp. 90.000,- apalagi pada saat lebaran, bisa naik 100%-nya atau bahkan lebih.
Ringtone dan Cerminan Diri
Banyak layanan yang dapat di gunakan untuk membuat nada tunggu handphone (HaPe) yang kita miliki. Yang biasanya hanya tut…tut…tut, kini dapat berganti dengan sair-sair lagu yang indah dan enak untuk di dengarkan. Tidak ada salahnya, dan biasanya orang-orang yang beragama Islam cenderung memasang ringtone dengan lagu-lagu Islami, seperti lagu-lagu dari Bimbo, Opick, Snada, dan lain-lain. Begitu juga dengan anak muda (ABG) tidak ada salahnya kalau mereka memasang nada tunggu untuk handphone-nya dengan lagu-lagu anak muda, seperti lagunya Ungu, Ada Band, Kangen Band, dan lain-lain. Tetapi apa jadinya kalau ternyata penggunaan nada tunggu tersebut salah tempat.
Mudik Lebaran dan Ajang Unjuk Kesuksesan
Saya tidak tahu pastinya, kapan fenomena mudik di negeri ini menjadi begitu dahsyatnya. Mungkin seiring maraknya tingkat urbanisasi. Atau mungkin di awali dari banyaknya orang-orang Jawa yang transmigrasi ke luar pulau Jawa, seperti ke pulau Sumatera, ke pulau Kalimantan, dan lain-lain. Mudik secara sederha di artikan pulang kampung atau kembali ke tanah kelahiran. Namun mudik tidak selalu di artikan pulang kampung atau ke suatu tempat yang jauh, yang memakan waktu berhari-hari. Pulang ke kampung yang di tempuh dengan naik kendaraan dengan memakan waktu dua jam saja, sebenarnya sudah bisa di katakan mudik. Tahun ini saya berkesempatan untuk tidak mudik. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa mudik dan kumpul dengan sanak famili di kampung halaman tercinta.
Awas, Ada “Gerandong” di Belitang
Kenalkah anda dengan yang namanya Gerandong. Buat orang yang suka sinetron kolosal pasti tahu siapa si Gerandong. Dalam sinetron televisi, Gerandong adalah anak dari Nini Pelet yang seram dan jahat. Namun untuk masyarakat Belitang dan sekitarnya ”Gerandong” adalah sebutan untuk penjahat. Tidak di ketahui kapan pastinya dan siapa yang pertama kali yang membuatkan julukan tersebut. Yang jelas julukan tersebut keluar seiring dengan maraknya kejahatan (di daerah Belitang) dan tenarnya sinetron Nini Pelet (Misteri Gunung Merapi). Kejahatan Gerandong telah menebarkan teror yang meresahkan warga di kampung. Gerombolan Gerandong di kenal lihai dalam beraksi, sekaligus lihai dalam melarikan diri. Oleh sebab itu sampai sekarang masih banyak Gerandong-Gerandong yang bebas berkeliaran dan melakukan kejahatan.
Jalur Cepat Ke Yang Maha Kuasa
Tak terasa, hari ini adalah hari ke lima kita menjalankan kewajiban kita, yakni berpuasa Ramadhan. Dan tidak terasa pula, postingan yang saya tulis ini adalah postingan setahun saya menggunakan blog. Karena dulu awal-awal saya bermain dengan blog, saya juga sudah pernah menuliskan sebuah postingan yang berjudul Puasa di Masa Kecil. Itu artinya kurang lebih sudah satu tahun saya nge-blog. Kalau di postingan saya tahun dulu bercerita tentang puasa di waktu kecil. Namun saat ini saya akan mencoba menuliskan hubungan puasa dengan internet (jalur koneksi). Memang ada hubungannya? Lalu apa hubungannya puasa dengan jalur koneksi internet.
Hukum di Negeri ini, Untuk Siapa?
Sebenarnya saya tidak tertarik untuk menulis dengan bahasan judul di atas. Namun setelah mendengar cerita dari ”orang dekat saya”, tentang kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu di daerahnya. Tetap saja, saya jadi tidak tahan untuk berdiam diri membiarkan kejadian itu hilang begitu saja. Apalagi saya punya media (blog) yang saya pikir bisa saya jadikan sarana untuk bercerita. Toh, walaupun pada akhirnya tulisan ini tidak ada yang membaca atau memberikan komentar, saya tidak ambil pusing, saya tetap akan menuliskannya. Karena saya yakin, suatu hari nanti pasti akan ada orang yang datang ke blog ini dan kemudian meluangkan waktunya untuk membacanya.